Info Buku
      Buku Baru
      Best Seller
      Daftar isi
      Katalog
      Buku Saku
      Sinopsis
      Segera Terbit
      Cari Buku
     Info Darul Falah
      Tentang kami
      Bedah buku
      Pameran
      Mau kirim naskah
    Buku Hard Cover

   
   

     Buku Soft Cover
    
   
 
 
            A
 


ADAB BERGAUL

Fariq bin Gasim Anuz

Rp. 17.000,-

156 hlm/sedang

 
 

Cita-cita tertinggi seorang Muslim ialah agar dirinya dicintai Alah dan menjadi orang bertakwa. Itu semua dapat diperoleh dengan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Di antara tanda-tanda seorang dicintai Allah, yaitu jika dirinya dicintai oleh orang-orang shalih, diterima di hati mereka. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,” Sesungguhnya, jika Allah mencintai seorang hamba, ia memanggil Jibril dan berkata,”Sesungguhnyaa Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia.' Lalu Jibril mencintainya dan menyeru kepada penduduk langit. ‘ Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah ia. 'Maka mereka (penduduk langit) mencintainya. Kemudian, ia menjadi orang yang diterima di muka bumi.” (Diriwaytkan Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus untuk menyempurnakan akhlak. Beliau adalah seorang manusia yang berakhlak mulia. Allah berfirman, ”Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.” (al –Qalam: 4)

Kita diperintahkan untuk mengikuti beliau, taat, dan menjadikannya sebagai teladan dalam hidup. Allah tealh menyatakan dalam firman-Nya, ”Sungguh telah ada pula diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik bagi kalian.” (Al Ahzab: 21)

Dengan mempraktekkan adab yang baik dalam bergaul, maka kita akan dapat memperoleh manfaat, yaitu berupa ukhuwah yang kuat di antara umat Islam. Ukhuwah yang dilandasi iman dan keikhlasan kepada Allah. Disebabkan tidak dipraktekkannya adab bergaul yang baik di antara sesama manusia sehingga banyak terjadi kerenggangan, bahkan permusuhan. Bahkan, adakah yang haq dijauhi oleh manusia, jika tidak diberengi dengan akhlak yang baik. Oleh karena itu, adab bergaul sangat perlu dipelajari dan diamalkan.

Kita harus mengetahui bagaimana adab terhadap orang tua kita, adab terhadap saudara kita, adab terhadap istri kita, adab seorang istri terhadap suaminya, adab terhadap teman sekerja, adab terhadap atasan, dan adab terhadap bawahan. Jika kita seorang da'i atau guru, maka kita harus mengetahui bagaimana adab bermuamalah dengan da'i atau guru lainnya, dan dengan orang yang didakwahi. Begitu pula seorang murid harus mengetahui adab terhadap gurunya. Demikianlah, apa pun jabatan dan kedudukannya, seseorang harus mengetahui etika atau adab-adab dalam bergaul.

 
................................................................................................................................
 

ADAB MUSLIMAH BERHIAS

Asma' Karimah

Rp. 5.000,-

120 hlm/saku


 
 

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taa'tilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab:33)

 
................................................................................................................................
 

ADAB ZIARAH KUBUR

Amr Abdul Mun'im

Rp. 5.500,-

76 hlm/sedang

 
................................................................................................................................
 

Mungkin kita akan bertanya, apakah boleh wanita ziarah kubur? Sebab, telah tersebar di kalangan kita bahwa wanita tidak diperkenankan ziarah kubur. Jika dilarang, apakah ada alasan yang melarang wanita untuk berziarah? Jika boleh, apakah ada adab-adab yang disyariatkan bagi wanita dalam ziarah kubur?

Insya Allah, buku ini akan membahas secara singkat seputar hukum ziarah kubur bagi wanita beserta adab-adabnya dengan menyebutkan hadits-hadits yang menunjukkan diperbolehkannya para wanita untuk ziarah kubur.

 
................................................................................................................................
 

ADAKAH MAULID NABI MUHAMMAD?

Abdullah bin Abdul Aziz At-Tuwajiry

Dakhilullah bin Bakhit al-Mathrafi

Rp. 18.000,-

172 hlm/sedang


 
 

Adakah perayaan Maulid Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam dalam Islam? Apakah Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam, atau para shahabat, tabi'ut-tabi'in sebagai generasi terbaik dari umat ini mengadakan perayaan maulid? Siapakah orang yang pertama kali membuat perayaan maulid? Bagaimanakah kondisi masyarakat di saat itu? Bagaimana pula cara mereka merayakan maulid? Benarkah dengan perayaan maulid membuktikan cinta kita kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam? Insya Allah dengan nash-nash yang shahih, buku ini menyajikan kedudukan perayaan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan gamblang.

 
................................................................................................................................
 

AL-AHKAM AL-SUTHANIYYAH

Imam Al-Mawardi

Rp. 51.000,-

472 hlm/besar-hc

 
 

Bagaimana konsep kenegaraan versi Islam, agama yang ditegaskan Allah Ta'ala sebagai rahmat untuk semua alam semesta, agama yang diturunkan sebagai pamungkas agama-agama samawi, dan akidah aplikatif yang menghasilkan nidzam (sistem) yang universal dan integral? Bagaimana ketangguhannya dalam menghadapi badai zaman dan pengaruhnya dalam pemerintahan dan rakyat yang menjadi obyek penerapannya? Apa rahasia ketangguhannya hingga sampai detik ini ia tegar dan tidak terusik, kendati musuh-musuh Islam telah merobohkan bangunannya (Daulah Utsmaniyah di Turki) melalui antek-anteknya pada tahun 1924? Apa kuncinya hingga orang-orang non-Muslim dulu justru merasa nyaman hidup di bawah naungannya? Bagaimana cara penerapannya hingga negara menjadi stabil, rakyat patuh kepadanya dan keadilan merata dirasakan semua pihak?

Jika Anda mengkaji ayat-ayat Al-Qur'an, hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam , dan hukum-hukum fiqh atau masalah-masalah yang disepakati para Khalifah Rasyidin, dan generasi sesudahnya, maka Anda lihat bahwa Syariat Islam ini sangat sarat dengan prinsip-prinsip sistem politik, sistem moneter, sistem pemerintahan, sistem peradilan, dan aspek-aspek lain yang dibutuhkan negara.

Bagaimana detail sistem politik, sistem moneter, sistem pemerintahan dan sistem peradilan versi Islam tersebut, maka buku Al-Ahkam As-Sulthaniyyah adalah jawabannya. Inilah buku politik pertama dalam Islam yang ditulis pakar tata negara Islam, hakim pada Negara Bani Abbasiyah, imam bagi para pengikut madzhab Imam Syafi'i pada zamannya, ahli fiqh, ahli ushul fiqh, pakar bahasa Arab, dan pakar tafsir, Imam Al-Mawardi Rahimahullah .

Seperti diakui Imam Al-Mawardi Rahimahullah dalam kata pengantar buku ini, bahwa ia menulis buku ini atas instruksi langsung dari khalifah ketika itu, karena saat itu belum ada pembukuan konsep kenegaraan Islam yang tercecer di banyak buku-buku fiqh. Oleh karena itu, ia merangkum konsep-konsep kenegaraan yang ada dalam buku-buku fiqh hingga tersusunlah buku ini untuk menjadi sebuah manual book bagi penyelenggaraan negara oleh kepala negara, dan semua aparatnya.

Nah, untuk pembaca kaum Muslimin, inilah mutiara kita bersama telah kami hadirkan, dengan harapan mudah-mudahan kehadiran buku ini bisa menjadi titik terang, kesadaran dan kebangkitan Daulah Islamiyyah! Amin .
 
................................................................................................................................
 

ALAM JIN

Imam As-Suyuthy

Rp. 26.000,-

252 hlm/besar

 
 

Jin termasuk topik cukup rentan yang bersentuhan dengan akidah Muslim. Ada sebagian orang yang tersesat karena pemikiran yang salah tentang jin dan Ifrit, sehubungan dengan keberadaan, asal-muasal, pernikahan, kemampuan, tempat tinggal mereka, dan berbagai masalah yang bersifat khusus tentang mereka.

Agar kita dapat berpikir dengan suatu pemikiran yang lurus, tidak menyimpang dan tidak tersesat, maka pertama-tama kita harus merujuk ke sumber syariat, yaitu Al-Qur'an Al-Azhim. Kita harus mengkaji berbagai masalah itu menurut batasan ayat-ayatnya.

Setelah itu kita harus mencari dari sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan penafsiran yang beliau sampaikan kepada kita tentang topik ini, yaitu berupa sabda beliau yang shahih. Kemudian barulah kita mengambil dari perkataan para shahabat dan orang-orang salaf yang shahih.

Buku ini membicarakan dengan tuntas pembahasan tentang jin. Al-Imam As-Suyuthi telah menyajikannya dengan cukup apik, bahasan yang mudah dipahami, singkat, dan memuaskan, yang diacukan kepada dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah

 
................................................................................................................................
 

AL-IMAN

Ibnu Taimiyah

Rp. 34.000,-

332 hlm/besar

 
 

Pada saat ini hampir tidak pernah ditampakkan perbedaan sebutan antara iman dan Islam, antara orang Mukmin dan Muslim. Sehingga kalangan awam benar-benar asing tentang masalah ini. Padahal, perbedaan antara dua sebutan ini sangat krusial dan secara nyata sudah dijelaskan di dalam Al-Qur'an. Ambil contoh, penolakan Allah terhadap sekumpulan orang Badui yang mengaku sebagai orang-orang yang beriman dan hanya memberi sebutan Islam kepada mereka atau penyerahan diri. Apa pasal? Karena iman memiliki beberapa syarat, sehingga orang yang memilikinya patut mendapat sebutan orang Mukmin.

Jangan kira kalau seseorang sudah mengucapkan syahadatain, tanpa amal, tanpa ketaatan dan tanpa qurbah, atau bahkan sebaliknya, ia melakukan dosa dan kedurhakaan, maka dia akan mendapat jaminan surga tanpa hisab. Toh orang munafik pun, yang kelak berada di tingkatan paling bawah dari neraka, juga dapat melakukannya. Jangan terkecoh oleh seseorang yang fasih kata-katanya, yang menyandang sebutan ulama atau kiai di tengah komunitasnya, tapi imannya di sisi Allah ternoda. Sebab boleh jadi dia hanya layak menyandang sebutan Muslim dan tidak patut menyandang sebutan Mukmin.

Jelasnya, setiap Mukmin disebut orang Muslim, namun tidak setiap Muslim disebut orang Mukmin. Lebih jelasnya lagi, iman memiliki permulaan dan kesempurnaan, memiliki zhahir dan batin. Masing-masing dari dua unsur ini tidak lepas dari ikatan yang harus diperhatikan.

Kitab ini termasuk salah satu karya Ibnu Taimiyah yang kesohor, karena di dalamnya diuraikan banyak hal berkaitan dengan masalah iman dan Islam, kekufuran dan kemunafikan, dan perbedaan pendapat di antara berbagai golongan dari ulama seputar masalah-masalah ini.

 
................................................................................................................................
 

Al-KABAIR

Imam Adz-Dzahabi

Rp. 34.000,-

362 hlm/besar

 
 

Buku itu ditulis oleh seorang ulama di abad ke delapan Hijriyah. Ia adalah Syamsuddin Muhammad bin Qaimaz At-Turkumani, Al-Fariqi, Ad-Dimasyqi, Asy-Syafi'i, lebih populer dengan sebutan Adz-Dzahabi. Al-Kabair adalah termasuk buku andalannya, yang memberikan terapi bagi permasalahan-permasalahan yang berguna dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ia mencoba mendekatkan kepada imajinasi seputar perkara-perkara yang sulit dipahami sebagaimana dalam kitab-kitab ilmiyah yang khusus ditulis untuk para ulama dan kaum terpelajar.

Sesuai dengan judulnya, penulis memberikan rincian seputar kabair (dosa-dosa besar), yang kesemuanya merupakan jenis kemaksiatan yang diberlakukannya hukum hudud di dunia atau ancaman di akhirat. Mengapa ada perbedaan antara dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil? Karena dalam dosa-dosa besar terdapat keterpautan kadar satu dengan lainnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpatokan bahwa dosa-dosa besar berlaku hukum hudud atasnya, ancaman, laknat, pelepasan diri, dan tiadanya keimanan sebagai patokan yang paling relevan.

Dalam Al-Kabair ini, tergambar bahwa Adz-Dzahabi sangat peduli terhadap berbagai kemaslahatan, pelurusan akidah serta moral manusia. Disajikan dengan bahasa yang mudah, metode yang jelas dan menawan serta jauh dari hal-hal yang diada-adakan. Karenanya sangat bermanfaat bagi para khatib dan penceramah sekaligus peringatan bagi orang-orang yang lengah dan bingung. Di samping sebagai penghardik bagi orang-orang durhaka dan menyimpang dari kebenaran, juga penuntun bagi orang-orang yang berhasrat melalui jalan Allah demi mendapatkan keridhaan-Nya.

 
................................................................................................................................
 

AL-QUR'AN & AS-SUNNAH BICARA WANITA

As-Sayyid Muhammad Shiddiq Khan

Rp. 56.000,-

592 hlm/besar-hc

 
 

Seperti disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzy, kaum wnaita di Madinah mengutus salah seorang di antara mereka, Ummu Ammarah menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam , untuk menyampaikan semacam tuntutan. Pasalnya berbagai macam kebaikan seakan-akan hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Lalu mana bagian kami? Begitulah inti tuntutan mereka. Demikian pula apa yang dikatakan Ummu Salamah,”Wahai Rasulullah, saya tidak mendengar Allah menyebut para wanita di dalam Al-Qur'an sehubungan dengan masalah hijrah.” Karena itu turunlah wahyu dalam surat Al-Ahzab ayat 35 dan Ali Imran ayat 195, berupa penjelasan tentang kedudukan laki-laki dan wanita yang sama di hadapan Allah.

Wanita adalah separuh bagian dari umat manusia dan bahkan prosentasenya lebih banyak jika dibandingan dengan kaum laki-laki. Artinya, wanita merupakan potensi yang tidak bisa dianggap enteng dalam kancah kehidupan.

Wanita adalah saudara kandung laki-laki, yang ditempatkan sejajar dalam kewajiban syari'at, kecuali dalam hal-hal yang memang dikecualikan bagi mereka. Tidak ada kebaikan yang disebutkan di dalam Al-Qur'an atau As-Sunnah, melainkan wanita juga diperintahkan untuk melaksanakannya. Tidak ada satu keburukan yang disebutkan di dalam Al-Qur'an atau As-Sunnah, melainkan wanita juga diperintahkan meninggalkannya. Sama dengan kaum laki-laki.

Setiap masalah yang disebutkan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, dipaparkan di dalam buku ini, walaupun masalah yang sekecil apa pun yang memang berkaitan dengan wanita. Karena itu pula kami hadirkan buku ini, agar para wanita khususnya dapat mengetahui apa saja yang dibicarakan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah sehubungan dengan dunianya.

 
................................................................................................................................
 

AMERIKA MENOLAK PRESIDEN WANITA

Ahmad Mansur Suryanegara

Rp. 6.000,-

104 hlm/sedang

 
 

Sampai hari ini, dari awal revolusi Amerika Serikat hingga Bill Clinton diangkat sebagai presiden ke-41 (1775-1999), berproses waktu selama 224 tahun lamanya, belum seorang pun wanita politikus menjadi calon presiden dan kemudian terpilih oleh masyarakat pemilih Amerika Serikat. Apalagi belum pernah dalam perjalanan sejarah Amerika Serikat, rakyat mengangkaat anak presiden menjadi calon presiden. Mengapa?

Apakah Amerika Serikat, Sang Pendekar Demokrasi, masih bertindak diskriminasi terhadap wanita? Ataukah disebabkan kebiasaan di kalangan elite wanita yang lebih menyukai playing dumb-memainkan peran membisu? Dan, mengapa sebaliknya Amerika Serikat sangat menginginkan negara berkembang sebagai “pengekor” mereka dipimpin oleh wanita? Buku yang ditulis tokoh Sejarawan Muslim ini, dapat menjadi pelajaran bagi siapa saja yang ingin kembali melihat sejarah terlahirnya “demokrasi prematur” Amerika Serikat dan keterkaitannya dengan peran wanita di panggung politik.
 
................................................................................................................................
 

APLIKASI SYARIAT ISLAM

Dr. Shalih bin Ghanim as-Sadlan

Rp. 23.000,-

256 hlm/besar

 
 

Ada dugaan yang kuat bahwa sebenarnya para pemimpin negara-negara Islam dan para politisi Muslim, dan Mesir, Pakistan sampai ke Indonesia, sudah tahu sebutan kafir bagi orang yang tidak menerapkan syariat yang diturunkan Allah. Minimal sebutan fisik dan zhalim. Kalau tidak tahu, mereka benar-benar keterlaluan, yang boleh jadi Islamnya hanya sebatas kulit semata yang boleh jadi shalatnya pun tidak becus, yang boleh jadi zakatnya pun tidak pernah dibayarkan. Kalau memang mereka tahu itu, kita pun berhak bertanya, mengapa mereka tidak mengaplikasikan hukum-hukum syariat Islam, tapi justru menggunakan hukum-hukum positif yang sumbernya dari hukum Belanda, Perancis, Inggris, dan negara-negara barat lainnya?

Kita orang-orang Muslim adalah ummatan wasathan, umat paling baik yang dikeluarkan bagi manusia. Kini menjadi saksi atas semua manusia itu benar. Tapi benarkah begitu? Omong kosong, nonsen dan absurd . Karena nyatanya kita bertekuk lutut, membeo dan mengekor di belakang bangsa barat, dalam segala sektor kehidupan. Kita adalah kurcaci dan kerdil, di hadapan diri kita dan di hadapan Islam, karena nyatanya kita tidak mampu berkhidmat demi Islam, demi tegaknya syariat Islam di bumi Allah.

Kalau kita masih boleh berandai-andai untuk sesuatu yang positif, maka terbayang dalam benak kita, alangkah aman dan tentramnya kehidupan ini jika syariat Islam diaplikasikan di negeri yang tercinta ini. Realitasnya, hal itu tidak mudah seperti membalik telapak tangan. Banyak kendala yang menghadang, internal maupun eksternal. Apakah kondisi masyarakat yang carut marut, yang marak dengan aneka ragam kemungkaran dan kekejian, sajian dan tontonan yang serba porno, yang tiap hari tak pernah lekang dari tindak kejahatan, sudah siapkah untuk aplikasi syariat? Berapa banyak tangan yang akan dipotong karena mencuri? Padahal di negeri ini, maling pun begitu madah lepas dari jeratan hukum jika dan mampu menyumpal petugas hukum dengan uang. Berapa banyak orang yang akan dihukum dera karena minum khamr? Padahal di negeri ini, memproduksi dan berjual beli khamr pun dilegalkan. Begitu banyak tindak kejahatan, dari kelas maling ayam hingga koruptor. Apa mau dikata. Tatanan hidup dan logika sudah banyak yang terbalik. Lalu apakah kita harus pasrah begitu saja?

Belum dan tidak boleh. Jalan masih panjang. Asa masih bisa dipupuk. Sumber daya orang Muslim masih bisa dikembangkan, dan setidak-tidaknya buku ini merupakan salah satu upaya utuk menggugah minat orang-orang Muslim untuk mengaplikasikan syariat Islam, di mana pun. Apalagi di dalamnya juga disajikan beberapa solusi dan tahapan yang dapat diterapkan untuk tujuan yang mulia itu.

 
................................................................................................................................
 

APAKAH NGEBOM ITU JIHAD?

Abdul Muhsin bin Hammad Al ‘Abad

Rp. 7.000,-

78 hlm/sedang

 
 

Marak pemboman yang terjadi selama ini sungguh sangat mencemaskan semua orang. Tak terbayangkan perasaan keluarga kurban yang ditinggalkan. Keluarga korban tidak mudah untuk memulihkan luka ini.

Walaupun pelakunya belum tertangkap, sebagian masyarakat menduga bahwa pelakunya dari kalangan Islam. Islam digambarkan sebagai agama yang menakutkan, teroris. Kalaupun benar pelakunya beragama iIslam, apakah aksi pengeboman yang mereka lakukan dapat dibenarkan jika ditilik dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Sehubungan dengan itu, perlu bagi kita semua untuk mengetahui masalah penghilangan nyawa orang. Apalagi dengan aksi pengeboman itu telah menewaskan semua orang, baik dari kalangan muslim maupun non muslim.

Buku ini memaparkan hukum-hukum pembunuhan dari aksi pegeboman.Kebanyakan pengeboman terjadi karena menganggap halal darah manusia, baik muslim maupun non muslim. Karena itu, buku ini harus dibaca oleh para aparat negara, perancang skenario pengeboman, pelaku yang diperalat, orang-orang non muslim dan kaum muslimin pada umumnya.

 
................................................................................................................................
 

AT-TAWAKKAL ALALLAH TA'ALA

Dr. Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji

Rp. 50.000,-

368/sedang-hc

 
 

At-Tawakkal Alallah Ta'ala yang diketengahkan dalam buku ini mencakup hakikat tawakal, sudut pandang aqidah, urgensi, buah, macam-macam, sebab-sebab yang terkait, dan fenomena lemahnya tawakal kepada Allah tersebab kebanyakan manusia senantiasa menyandarkan permasalahan kepada sebab-sebab semata.

Ibnu Rajab berkata tentang tawakal, “Ia adalah hakikat bergantungnya hati kepada Allah Azza wa Jalla dalam mendatangkan kebaikan dan menolak bahaya dari urusan dunia dan akhirat.”

Ibnul Qayyim berkata, “Tawakal adalah setengah agama.”

Dan manusia pada zaman ini ada tiga tingkatan:

Pertama: orang-orang yang berpura-pura tawakal, tidak mau bekerja dan menjalani sebab-sebab, ini jelas menyelisihi Sunnatullah pada alam ini.

Kedua: orang-orang yang menjalani atau melakukan sebab-sebab tapi meninggalkan tawakal, mereka ini adalah orang-orang materialistis.

Ketiga: ahlul haq , yaitu orang-orang yang melakukan sebab-sebab dan bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla . Ini adalah jalan para nabi dan rasul, mereka beramal untuk surga dan bertawakal kepada Allah.

Kita memohon agar kiranya Allah Ta'ala memasukkan kita ke dalam tingkatan yang tertinggi dan mulia; seorang yang berusaha dan bertawakal, sebagaimana qudwah (teladan) kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Amin.
 
 
      Alamat e-mail :
      - Redaksi     : redaksi@darulfalah.co.id
      - Pemasaran : daar_elfalah@yahoo.co.id
 
  Copyright © 2009 Darul Falah Company, all right reserved